Author Archives: Admin

  • 0

Manusia Terkurung Kata-kata

Category : Blog

Manusia Terkurung Kata-kata

Jalaluddin Rumi

——————————————-

Putera Atabeg datang.

“Ayahmu selalu mengingat Tuhan, dan dia sangat taat”, sang guru berkata, “itu nampak dari apa yang dia katakan.”

Suatu hari Atabeg berkata, “Orang kafir Yunani telah menyarankan kami menikahkan putri kami kepada kaum Tartar, serhingga agamanya menjadi satu dan agama Islam akan lenyap.”

“Pernahkan agama menjadi satu?” aku bertanya, “yang terjadi selalu dua atau tiga, dan perang selalu berkecamuk diantara sesama pemeluk agama. Bagaimana mungkin engkau menyatukan agama?. Pada hari kebangkitan, semuanya akan dipersatukan. Tetapi di sini, di dunia ini, mustahil agama agama menjadi satu karena setiap orang memiliki hasrat dan keinginan berbeda. Meskipun demikian, pada hari kebangkitan nanti, ketika segalanya menjadi satu, setiap orang akan melihat pada satu hal, mendengar dan membicarakan satu hal”.

Ada berbagai macam hal dalam diri manusia. Dia adalah seekor tikus, dan dia juga seekor burung. Kadang-kadang burung mengangkat kurungannya, tetapi kemudian tikus menariknya kembali ke bawah. Ada ribuan binatang lain di dalam diri manusia, sampai dia manju pada titik tempat tikus melenyapkan “ketikusannya” dan burung melenyapkan “keburungannya”. Semua akan disatukan, karena pencarian sasaran tidak ke atas ataupun kebawah. Ketika sasaran ditemukan, tidak ada “atas” dan “bawah”. Ketika seserorang kehilangan sesuatu, dia mencarinya ke sgala arah - kiri dan kanan, atas dan bawah, kesana ke3mari, ke segala rah. Dan ketika sudah ditemukan, dia akan menghentikan pencariannya. Pada hari kebangkitan nanti setiap orang akan melihat dengan satu mata, berbicara dengan satu lidah, mendengar dengan satu telinga, dan menyerap dengan satu indera.

Hal itu seperti sepuluh orang yang bersama-sama memiliki taman atau toko. Mereka berbicara tentang satu hal, khawatir tentang satu hal, dan disibukkan dengan satu hal. Ketika barang yang dicari telah ditemukan, (pada hari kebangkitan ketika seluruhnya akan bertatapan dengan Tuhan), seluruhnya akan disatukan dengan cara serupa ini.

Di dunia ini setiap orang disibukkan dengan sesuatu. Sebagian sibuk dengan cinta pada perempuan, sebagian dengan harta benda, sebagian dengan bagaimana mendapatkan uang, sebagian dengan ilmu. Masing orang percaya pada kesejahteraan dan kebahagiaan yang dicapainya berdasar pada kepercayaan itu, demikian pula rahmat Tuhan. Ketika manusia mencara dan tidak menemukannya, dia akan menghentikan pencarian. Setelah beristirahat sebentar dia berkata, “kenikmatan dan rahmat itu mesti dicari. barangkali aku tidak cukup mencari, biarlah akum mencari kembali.” Ketika dia mencari kembali dan masih tidak menemukannya, dia terus mencari hingga sang rahmat membukan diri. Ketika sampai pada tahap itulah dia menyadari bahwa sebelumnya dia melakukan pencarian pada jalan yang salah. Meski demikian, Tuhan memiliki beberapa pelayan yang melihat dengan pandangan yang jernih bahkan sebelum tiba hari kebangkitan.

Ali pernah berkata, “Apabila tirai telah diangkat, aku tidak menjadi lebih yakin.” Dengan ini dia mengartikan bahwa apabila kulit permukaan telah diangkat dan hari kiamat menampakkan dirinya, keyakinan tidak akan meningkat. Penglihatannya seperti sekelompok orang yang pergi ke dalam ruang gelap pada malam hari dan berdoa. Masing masing orang menatap pada rah yang berbeda. Ketika hari berganti, mereka kembali memutarkan dirinya kecuali seorang lelaki yang telah menatap Mekkah sepanjang malam. Ketika orang berputar arah kepada arahnya masing-masing, kenapa mesti ikut berputar arah?. Para pelayan Tuhan itu menatap Dia sepanjang malam. Mereka telah membalikkan diri dari semua yang lain, kecuali dari Tuhan. Bagi mereka hari kebangkitan terasa segera akan terjadi dan selalu merasakan kehadirannya.

Memang kata kata tidak berbatas maknanya. Namun kata kta di wahyukan sesuai dengan kemampuan orang yang mencarinya. Tidak satu hal pun disana, kecuali Kami memiliki gudang itu semuanya; dan Kami tidak menyebarkannya dengan merata, melainkan dengan ukuran yang telah ditentukan (QS 15:21). Hikmah turun seperti hujan dari sumbernya yang tiada pernah berakhir. Dia turun dengan kesesuaian terbaiknya, kurang atau lebih, berdasarkan musim. Ahli pengobatan menaruh gula atau obat pada secarik kertas, tetapi di sana terdapat lebih banyak gula daripada yang ada pada ketas. Asal mula gula dan obat sangat tidak terbatas, tetapi betapa mereka mampu mencocokkannya pada secari kertas.

Beberapa orang mengejek Nabi Muhammad, dan berkata, “Kenapa AlQuran diwahyukan kepada Muhammad kata demi kata, dan tidak bab demi bab?”

Nabi Muhammad menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Sendainya AlQuran diwahyukan semuanya kepadaku secara serentak, aku akan meleleh hancur dan mati.”

Orang yang mengabarkan sesuatu, memahami lebih banyak dari sesuatu yang sedikit; dari satu hal dia memahami banyak hal; dari satu baris, mamahami seluruh buku. Persis seperti seklompok orang yang duduk menyimak sebuah cerita. Satu dari mereka mengetahui seluruh cerita, ketika ceritanya baru dimulai. Dari satu kiasan dia memahami sebanyak orang lain dengar. Hal itu terjadi karena orang orang itu tidak menyadari seluruh situasi yang terjadi. Orang yang mengetahui semuanya, memahami lebih banyak dari sedikit saja yang diceritakan.

Mari kita kembali pada ahli pengobatan. Ketika pergi ke toko ahli obat, di sana terdapat banyak gula. Tetapi dia akan melihat berapa banyak uang engkau miliki dan akan memberikan gula sesuai dengan uang yang engkau miliki. Di dalam contoh itu, “uangmu berarti “cita citamu” dan “pengobatanmu”. Demikian pula kata kata. Ia di wahyukan berdasar pada cita cita dan ketaatanmu. Ketika engkau akan mengambil gula, ahli pengobatan melihat sakumu, memperhatikan berapa banyak gula akan tertampung, dan mengukur sesuai dengan itu. Apabila sesorang membawa barisan unta dengan banyak karung, mereka akan memanggil tukang angkut. Dalam kasus serupa, ada sejumlah orang baginya lautan tidaklah cukup. Sementara bagi yang lain beberapa tetas kecil saja mencukupi. Lebih dari tiu justru akan mencelakakannya. Ini berlaku tidak hanya di alam makna, ilmu, dan hikmah tetapi juga dalam segala sesuatu. Kepemilikan-kemakmuran dan kepemilikan-semuanya tidak terbatas, tetapi semua itu diberikan dengan ukuran yang sesuai. Orang yang menanggung lebih banyak dari kemampuannya akan menjadi gila. Tidakkah engkau lihat Majnun dan Farhad itu - dan pencinta lain yang menempuh nestapa padang pasir demi cintanya kepada seseorang perempuan - tlah memikul hasrat yang melampaui kemampuannya? Tidakkah engkau lihat Fir’aun yang mengakui dirinya sebagai Tuhan ketika dia diberi terlalu banyak kemakmuran dan kekuasaan? Tidak satu hal pun di sana, melainkan gudang itu semuanya berada di tangan Kami (QS. 15:21). Tuhan telah berfirman, “Tidak ada apapun, baik atau buruk dengan persediaan yang terbatas dalam gudang Kami, tetapi Kami menganugerahkannya sesuai dengan kemampuan, dan itu merupakan jalan yang terbaik.”

Betul, seseorang mungkin menjadi seorang mukmin tanpa tahu apa yang mereka imani. Seperti anak kecil “percaya” pada roti tanpa mengetahui yang dia percayai. Demikian pula buah-buahan dari pohon mengering dan layu kekeringan. Tetapi mereka masih tidak mengerti apa “haus” itu. Keberadaan manusia bagaikan bendera yang berkibar diudara. Kemudian tentara dikirim dan dikumpulkan mengelilingi bendera dari setiap arah untuk mengetahui Tuhan. Dari arah nalar, pemahaman, kemarahan, keberangan, pengampunan, keluruhan budi, ketakutan, dan harapan, keadaan tanpa akhir, serta kualitas tanpa batas. Setiap orang yang mencari dari kejauhan hanya melihat benderanya saja, tetapi yang mencari dari dekat menyadari hakikatnya.

Seseorang datang dan dia ditanya, “Dari mana saja engkau?” “Kami merindukanmu, mengapa engkau pergi begitu lama?”. “Itu tergantung pada keadaan,” jawabnya. “Kami telah dan akan tetap berdoa agar kaeadaan ini akan berubah. Keadaan yang membawa perbadaan sungguh tidak terlihat”.

Benar, demi Tuhan, bahkan situasi seperti itu dari Tuhan dan Dialah yang menentukan. Situasi baik dimata Tuhan. Memang benar segala hal yang baik dan sempurna dalam hubungannya dengan Tuhan. bukan buhungan dengan kita. Ketidakmurnian dan kemurnian, penolakan dan perhatian terhadap shalat, kekafiran dan keimanan, politeisme dan montoteisme — semua itu baik dalam hubungan dengan Tuhan. Tetapi bagi kita perzinahan, pencurian, kekafiran, dan politeisme merupakan keburukan, sementara monoteisme, tata cara ibadah, dan sedekah merupakan kebaikan. Segala sesuatu baik jika dipandangan dalam hubungan dengan Tuhan. Seorang raja mungkin memiliki tiang gantungan, penjara, pakaian kebesaran, kemakmuran, harta benda, rombongan perayaan, kebahagiaan, juga genderang perang dan bendera. Di dalam hubungan dengan raja, semua hal itu baik. Sebagaimana kerajaannya dilengkapi dengan baju kebesaran, demikian pula ia dilengkapi dengan tiang gantungan, hukuman, dan penjara. Semua itu pelengkap kerajaannya, meskipun bagi orang orang lalim baju kebesaran dan tiang gantungan sama sama menakutkan.

 

Disalin oleh: Chandra S
Sumber: “Yang mengenal dirinya yang mengenal Tuhannya”. Aforisme-Sufistik. Jalaluddin Rumi. Pustka Hidayah.2003

—-o00—-

 

 

 

 

 


Recent Comments